KARENA ROMEO DAN JULIET PUN MENAMBAHKAN RACUN KE DALAM SEJARAH “CINTA”

Oleh Arip Senjaya

Aku berhenti berkata-kata, berhenti seperti saat jari-jariku berhenti mengetik, dan menatap dunia di seberang jendela: cakrawala abu, angin menggerakan daun-daun, suara hujan bergemuruh pada atap seng, hujan turun dalam irama angin. Dan aku pun menyadari bahwa semua yang kusaksikan dan semua yang aku dengar berada di seberang jendela bahasa, bukan di seberang jendela kamar kerjaku.

Jika aku benar-benar menutup bahasa—si jendela dunia itu—aku tidak dapat melihat dan mendengar apa pun, tapi aku tak mungkin sanggup melakukannya. Bahkan dalam tidur aku masih saja berhutang pada bahasa, dalam mati nanti pun aku masih harus berbahasa. Bahasa tak pernah mati dan memanggul realitasku saat aku hidup.

Kalau aku yakin dunia hanya mungkin karena dimungkinkan bahasa maka aku harus yakin bahwa tidak hanya satu suaraku tentang dunia yang sama. Hari ini kukatakan “hujan”, besok kukatakan “kelam”, besoknya kukatakan “air mata”, besoknya lagi mungkin kukatakan “cinta”. Dan apa saja bisa kukatakan dari rujukan yang sama.

Pada intinya, aku akan terus mengolah kata-kata dan akhirnya meninggalkan apa yang aku rujuk: hujan di luar sana telah berpindah menjadi aneka dunia di dalam kamar kerja bahasaku sendiri, bukan di luar jendela kamar kerjaku lagi.

Aku percaya itu seperti dalam kasusku terasing dari benda-benda fisika sebelum kupelajari fisika. Dunia kemudian adalah dunia yang dikatakan fisika. Tanpa harus kukenali benda-benda itu di depan mata, bahasa rupanya cukup untuk menciptakan kebenaran. Dan aku tidak pernah dapat pastikan apakah aku benar atau salah dalam menjelaskan dunia. Tapi bertahun sudah aku hidup di atas fisika dan bukan di atas dunia yang dirujuknya.

Aku benar-benar ingin memasuki realitas dan kini rasanya semakin sulit. Realitas seperti meminta syarat mutlak: ia harus dibersihkan dari kontaminasi bahasa. Kalau tidak, aku selamanya akan tergelincir, melangkah dalam gelap, atau kembali ke yang mengkontaminasinya lagi: bahasa-bahasa pula!

Ini memang berkaitan dengan keadilan. Kita dengan bahasa dapat mengotori realitas tapi realitas tidak dapat mengotori bahasa karena realitas itu bersih dan tetap begitu. Maka, jangan katakan realitas itu residu bahasa! Jangan! Yang benar, bahasa meresidukan dirinya sendiri dengan keyakinan dan kebenaran yang tidak dapat dibenarkan realitas.

Ini seperti cinta bertepuk sebelah tangan, bukan? Kita yakin kita benar tapi yang kita yakini bahkan tidak mengangguk sama sekali. Kita menipu diri sendiri.

Kita mungkin bisa memberikan akses masuk bagi realitas ke arah bahasa kita dan dialah yang mengontaminasi bahasa kita dengan kebenaran dan kepalsuan versi dirinya. Tapi bagaimana caranya? Bahasa kita adalah tumpukan zat-zat yang sulit dibersihkan lagi hingga realitas enggan menembusnya dan kita tidak tahu kata apa yang masih murni. Rome dan Juliet pun menambahkan racun ke dalam kata “cinta”, hal yang mungkin saja pada mulanya murni.

Mungkinkah jiwa-jiwa tercemar diizinkan memasuki kemurnian? Surga itulah kemurnian pada mulanya! Lalu kita mencemari diri dengan bahasa cinta dan dunia adalah tempat mencuci bahasa yang berlumur dosa.

Dan kita belum berhasil. Dunia adalah tempat kita mencampuradukan beragam dosa lainnya, bahkan dosa-dosa yang kita tidak tahu maknanya seperti puisi-puisi indah yang kita tidak tahu tentang apa.

Adalah ngeri sebenarnya jika terbukti kelak bahwa bahasa dan realitas tidak berhubungan sama sekali. Semua yang kita katakan adalah realitas tersendiri saja dan sebenarnya kita sedang sibuk dengan diri kita masing-masing sepanjang sejarah dan di sejarah mana pun. Lalu hanya ada satu kata “Allah” yang terbukti, yakni kata yang dengan rujukannya berkorespondensi secara akurat. Kita akan malu tentu melihat semasa hidup ternyata kita sama saja dengan Firaun meski kita tidak mengatakan kita Tuhan, tapi di atas bahasa kita mencipta apa saja dan berkuasa terhadap segalanya, juga terhadap “Tuhan”.

Katakanlah kita berhasil lolos dari bahasa lalu dengan apa kita memasuki realitas? —Oh, kesadaran! Kalau begitu betapa bahagia hewan-hewan dan tanaman! Mereka tidak berbahasa —Oh, insting? Betapa kejam kita menilai mereka, sedangkan kesadaran kita masih mengantarkan kita ke lapangan tembak untuk bunuh diri atau membunuh sesama.

Kapan kita menghidupkan diri kita sendiri andai sebuah kata—kun—tidak pernah diucapkan ke arah kita?

Melalui kata “intertekstualitas” mestinya kita sadar bahwa kita memang makhluk yang menyerahkan diri pada segala yang sudah tercemar di belakang kita. Sejarah bahasa kita adalah sejarah penerusan ketercemaran bahasa para pendahulu kita yang sudah beracun di masa lalu, ditambah lagi dosisnya di masa sekarang.

Para martir yang bunuh diri karena kata “cinta” tak pernah cukup jadi pelajaran betapa kerasnya racun bahasa kita. Romeo-Juliet belum pernah cukup jadi teladan.

Kalau intertekstualitas itu benar, kita mungkin butuh penjelasan tentang bahasa paling awal yang murni itu. Apakah kata-kata tersebut ada di dalam kitab-kitab suci kita? Aku hanya yakin setelah “kun” hanya ada kata berikutnya “fayakun”.

–il n’y a pas de hors-texte–

Tidak ada apa pun di luar teks? Tidak! Tidak ada apa pun di dalam teks! Kalau kau mengatakan ada, itu adalah ada yang kau adakan. Kalau kau bilang tidak ada apa pun di luar teks, kau tak peka dengan titik berangkatnya. Tak mungkin yang beracun dimulai tanpa kemurnian, tak mungkin semesta tanpa permulaan. Kau tak langsung sematang dan sepemikir itu. Pada mulanya kau pun murni saat lahir.

Ketika kukatakan “kau” maka kau pun ada dan dengan kata itu pula aku menjangkau dunia tak peduli kau tersentuh atau tidak. []

Arip Senjaya, dosen filsafat dan sastra Untirta, tinggal di Serang.

SituSeni

Penerbit Buku dan Siber, serta menjalani kesanggaran dalam bidang tani dan ternak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *