Borobudur, Monumen dan Gudang Ilmu

Oleh Amink Derachman

Sampai hari ini, keberadaan Candi Borobudur masih berselimut kabut misteri, sekalipun sejarah menyebut, Borobudur dibangun pada abad ke-8 oleh dinasti Syailendra, sebagai kuil agama Budha Mahayana. Kemudian disebutkan juga sebagai kuil Budha terbesar di dunia. Maha Karya ini berstatus “Keajaiban Dunia”

Keajaiban Dunia?

Begitu banyak catatan para ahli dari berbagai negara yang datang meneliti dan menyimpan pertanyaan besar, bagai sebuah tekateki tak terpecahkan sepanjang masa. Di antaranya tentang siapa arsiteknya, dengan cara apa dibangun, dari mana bahannya, berapa lama dibangun, untuk apa funsinya, dsb. Pertanyaan pertanyaan itu seakan meragukan informasi sejarah yang kita pahami selama ini.

Foto dok pri penulis

Why?

Tahun 2004, saya bersama keluarga kembali memotret setiap detil-detilnya, sambil meraba-raba kembali permukaan yang jadi sebab para ahli keheranan. Tetapi tetap saja hanya terpukau, melongo tak mengerti, sekalipun membawa banyak informasi dari buku-buku sebelumnya. Anak-anak diajak untuk melakukan semacam simulasi, kira-kira apa yang menjadi pertanyaannya, sekalian belajar memotret.Mereka lebih banyak bertanya tentang berbagai adegan yang tergambar di relief setiap dinding. Mereka tentu belum bisa melihat secara luas dan penuh. Namun pertanyaan yang naif seperti itulah justru yang tak terjawab dengan tegas. Pemandu pun membisu. Pertanyaan seorang anak kadang bercampur dengan imajinasi, sepeti sedang membaca komik dan nonton film kartun.

Pemandu mengijinkan kami menaiki stupa untuk melihat lorong dan isi di dalamnya. Suasana saat itu sedang sepi, jadi bisa lebih leluasa dalam pengambilan gambar. Anehnya, anak-anak tidak bosan berlama-lama di situ dari pagi hingga sore. Lalu mereka dikasih tahu kenapa anak pertama diberi nama Jante Prabandala, dan adiknya Azhar Magentalangit.

Akhirnya, setelah dewasa mereka paham tentang arti proses penciptaan dan fenomena alam semesta.

Belakangan ini, rame berkaitan dengan tiket masuk dan naik candi Borobudur yang dinilai harganya sangat mahal. Alasan pemerintah, adalah untuk membatasi pengunjung demi pelestarian karya budaya ini, dari kerusakan akibat pengunjung. Pro dan kontra pun terjadi. Keberatan banyak muncul dari kaum akademis, yang memahami bahwa Borobudur itu sebagai gudang ilmu pengetahuan dan objek studi, bukan sekedar objek pariwisata yang menghasilkan uang.

Rp750.000 itu sungguh murah bagi orang berduit banyak, dan belum tentu juga orang kaya punya etika dalam berwisata. Orang miskin silahkan jadi penonton saja, tidak perlu naik dan mendekati sumber ilmu pengetahuan.

Kami setuju, bahwa Monumen hebat ini harus dijaga dan dilestarikan. Setuju juga dengan pembatasan jumlah pengunjung yang naik ke candi. Tapi caranya adalah dengan menegakkan aturan dan disiplin pelayanan. Bukan dari hukum ekonomi hingga berkesan bahwa orang miskin harus ‘tau diri’.

Keputusan memang harus muncul dari pemimpin yang bijak, yang mau mendengar para budayawan, ilmuwan, dan pihak lain yang menggangap ilmu itu penting. Jika keputusan itu keluar dari pemimpin yang arogan, maka semakin bodohlah bangsa ini.
Maha Karya Borobudur adalah cerminan luhurnya kebudayaan bangsa yang besar di masa lalu. Inilah warisan leluhur yang dipersembahkan untuk semua anak bangsa dan dunia, yang terbukti kokoh dari jaman ke jaman.

Borobudur bukan untuk mereka yang sekedar mampu membayar, tapi sekali lagi, tegakkanlah aturan dan disiplin para pengelolanya jika alasannya untuk pelestarian.

Warisan ilmu itu bukan sekedar dari tampilan fisiknya, tapi juga untuk segala sesuatu yang ada di belakangnya. Untuk itu, butuh kedekatan yang mendalam serta petunjuk para ahli di bidangnya. Warisan itu untuk dibagikan bukan dijual, hut!! (wahai manusia paling caper sealam dunia, rasa malu itu penting juga).

Salam Kebudayaan
Amink

One thought on “Borobudur, Monumen dan Gudang Ilmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *