BABANGUIK

Oleh Doddi Ahmad Fauji

Kontroversi di akhir paruh pertama tahun 2022 ini, adalah soal rendang babi. Menurut saya, kontroversi itu ikut dipicu oleh kemandulan dalam penciptaan kata, yang menjadi unsur terkecil gabungan huruf yang melahirkan makna. Misalkan ada tiga orang memasak rendang, dengan bahan baku utama yang berbeda, misalnya orang pertama dari daging sapi, orang kedua dari daging ayam, dan orang ketiga dari babi, lalu masing-masing apakah tetap akan menggunakan nama rendang (tanpa embel-embel rendang sapi, rendang ayam, rendang babi)?

Mungkin orang pertama yang membuat rendang berbahan dasar daging sapi, tidak perlu repot-repot, cukup katakana ini “Redang” karena memang, hingga saat ini, Rendang yang dijual di rumah makan Padang/Minang, memang berbahan dasar daging sapi. Orang kedua, jika hanya menyebut ini “Rendang” padahal bahan bakunya daging ayam, masih bisakah disebut Rendang? Atau, supaya tetap disebut rendang, maka tulis saja Rendang Ayam. Kiranya sebagian orang Minang bisa menerima, dan tidak akan mempermasalahkan rendang identik dengan makanan untuk orang beragama Islam.

Yang dipermasalahkan adalah orang ketiga, ia memperjelas atribut pada makanannya, rendang babi.

Misalkan tiga orang itu membuat makanan dengan bumbu yang sama, cara dan proses yang sama, namun bahan utamanya beda, yang satu dari daging sapi, satu dari daging ayam, satunya lagi dari daging babi, lalu masing-masing memberi nama yang berbeda, di mana orang pertama menyebut hasil masakannya dengan nama ‘rendang’, orang kedua memberi nama ‘renyam’ yang merupakan akronim dari rendang ayam, sedang orang ketiga memberinya nama babanguik, apakah ini akan melahirkan persoalan atau ada orang yang mempersoalkan?

Jika misalnya ada yang Namanya babanguik teh apa? Lalu dijawab masakan berbumbu dengan bahan dasar babi! Tapi orang itu bertanya lagi, “kok rasanya mirip rendang?” Lalu dijawab, ya mungkin, tapi ini bukan rendang, ini mah ‘babanguik’. Nah, nah, nah, kira-kira bagaimana?

Penciptaan kata, sungguh perlu dilakukan, kata kekayaan kata, akan memperkaya bahasa. ‘Kehebatan sebuah negara, bisa dilihat dari tebalnya kamus resmi yang memuatkan lema atau kosakata’. Duh, beneran lupa, siapa ya yang menuturkan kalimat barusan?

Kita tahu komouter sudah menjadi diksi atau lema, atau kata, atau vokabulari Indonesia, yang diadopsi dari luar. Namun di China, menurut Soeria Disastra, budayawan pernakan, mengatakan bahwa di China istilah komputer itu diberi nama listrik pintar (keduanya dalam diksi China). Memberi istilah listrik pintar, bukan berarti orang China tidak bisa mengadopsi diksi ‘computer’, namun mereka ingin memproteksi bahasa, agar tidak begitu mudah ter-interferensi oleh lema dari luar. Mungkin karena keterpaksaan jika ada lema dari luar, yang diadopsi dengan lema yang sama, namun dalam fonemik yang berbeda.

Saya berkeyakinan, kreativitas penciptaan itu dimulai dari Bahasa, kemudian menjelma filsafat yang ditahbiskan sebagai ibu bagi semua ilmu pengetajuan. Dari filsafat itu, lahir tiga rumpun ilmu, yaitu ilmu kesenian, ilmu sosial, dan ilmu sains. Dari ketiga rumpun itu, lahir cabang-cabang berikutnya. Dari cabang itu, berkembang lagi menjadi ranting. Sebanyak apapun cabang dan ranting, padamulanya lahir dari filsafat sebagai ibunya, dan filsafat berasal dari bahasa. Orang Arab punya ungkapan, “Al-aslu lughotan, maa buniya alaihi, ghoirihi” (asal usul itu dari bahasa, dan tiada lagi keraguan padanya). Ungkapan itu lahir, sejalan dengan warta dari Tuhan dalam Quran, yaitu: Apabila Dia menhendaki sesuatu, cukup berucap: Kun, fayakun (QS, Yasin 82).

Keterangan ini juga perlu dicermati: “Dan diajarinya Adam nama-nama (kata) (QS, Albaqarah, 31).

Setelah diajari nama-nama atau satuan bahasa yang kecil, Adam kemudian diangkat menjadi pemimpin di muka bumi. Pelajaran itu disampaikan Adam di depan para malaikat.

Jadi, jika bahasanya kacau, sekalipun dia itu ustad, ajengan, pendeta, rahib, Danramil, camat, apalagi anggota DPR dan Presiden, maka mereka itu bukanlah orang yang layak menjadi pemimpin. Terlebih jika ia mengaku Islam dan Ustad pula, maka jika kebahasaannya kacau, gramatikanya pabaliut, sungguh, sekali lagi, ia tak layak disebut pemimpin.

Kumaha atuh? Sebaiknya, tinggalkan para pemimpin yang kacau dalam berbahasa, sekalipun ia ketua DPC Partey Pohon Kemenyan, Partey Babi, Partey Kapas Beringin, yang menggajimu agar kau bersedia jadi anjing bulldog atau tukang jilat pantat.

Kenapa bangsa kita belum juga bisa menciptakan mesin yang mandiri, komputer yang seluruh bahan elektroniknya ciptaan sendiri, telepon buatam sendiri, adalah diawali karena kita mandul dalam menciptakan literasi atau aksara. Jangankan membuat android yang super-canggih, bahkan sekian orang yang sudah bermukim di comfort zone, mereka gagap berteknologi informasi.

Nah, jadi babanguik itu bukan rendang babi ya, meskipun bumbu dan proses pengolahannya seperti rendang. Juga Renyam itu, memang rendang, tapi bahan utamanya dari ayam.

Cik kira-kira Kiyai Deddy Koral akan protes?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *