Urung

Oleh Neni Hendriati

Hm, suasana Minggu, 18 September 2022, sungguh cerah,

Selama seminggu lebih, Tasikmalaya diguyur hujan lebat, bahkan sampai tadi malam, gerimis msih membasahi pelataran. Kini, tak ada lagi, jalanan terlihat kering, cuaca pun terasa hangat.

Cocok nih tuk nyepedah lagi, pikirku. Kebetulan cucu-cucu yang biasa menginap di malam Minggu, masih terlelap. Setelah berpamitan kepada paksu, kukeluarkan sepeda kesayangan, dan udara segar menerpa wajahku

Terlalu pagi nampaknya, tak seorang pun kulihat di lingkungan perumahan.

Bisa dimaklumi, mereka masih menikmati Minggu dengan aktivitas di rumah, bahkan mungkin ada yang masih meringkuk di bawah selimut. Sangat menguntungkan bagiku, yang kadang sering kaget bila berpapasan dengan kendaraan lain, apalagi yang memperdengarkan suara knalpot bising, bikin hati tak tenang.

Berkeliling mengitari perum, tampaknya ide bagus. Kususur jalanan sepi, gang semi gang, mulai dari yang terdekat, sampai di jalanan yang belum pernah kulewati. Luas juga nampaknya perum yang kutempati ini.

Arah lurus ke belakang masjid, suasana sangat sepi. Jalanan agak menanjak, kugenjot sepeda menyusuri jalan di pinggiran sawah, terhalang benteng perumahan. Jejeran rumah, tak terawat, tampak tak berpenghuni. Sayang sekali, padahal, masih banyak diantara kita yang belum memiliki rumah hunian! Dan ini, dibiarkan kosong, tanpa perawatan.

Dengan napas agak ngos-ngosan, sampai juga di jalanan mendatar. Di depanku tampak seorang anak laki-laki, berambut keriting kemeraham, berjalan sendirian.

Wah, berani betul, Nak! batinku.

Dia mengenakan jeans biru, kaos kuning berbunga-bunga. Mungkin jaman sekarang, anak laki-laki juga senang dengan bunga. Kulewati dia, dan sempat kulirik, dia tengah menatapku, dengan tatapan kosong dan wajah putih pucat. Serasa ada yang berdesir di jantunku, entah apa. Kuajak senyum, dia melengos dan menunduk. Ah, mungkin dia takut melihatku. Segera kukayuh sepeda meninggalkannya.

Baru beberapa meter, rasa penasaran  tentang anak pemberani itu, membuatku menghentikan sepeda dan kutengok ke belakang. Lho, kok gak ada? Aku terkejut! Kutengok  kiri kanan, tak ada anak itu. Ke mana perginya?

Kalau diamati, tidak ada jalan yang dapat dilalui ke kanan atau ke kiri, karena sebelah kiri adalah benteng,pemisah sawah dan perumahan, sebelah kanan adalah rumah-rumah kosong dengan pagar terkunci.

Seketika kurasakan bulu kuduk merinding, segera kubalikkan sepeda, menyusur jalan yang telah kulewati. Tetap tak kutemukan anak itu!

Sesaat aku termangu di tengah jalan, suasana lengang, semakin membuatku ketakutan. Segera ku berlalu dari situ. Pulang! Itu yang kupikirkan.

Kukayuh sepeda, menyusuri jalanan, dan kulihat di depan, masjid tadi kulalui. Ada sedikit rasa lega, berarti aku masih di jalan yang benar!

Jalan-jalan hari itu, urung.

Masih kupikirkan, siapa anak berwajah pucat misterius itu.

Mungkinkah?

Ah!

neni.hendriati@gmail.com

Neni Hendriati adalah guru di SDN 4 Sukamanah. Buku yang pernah diterbitkan bersama dua saudaranya, yaitu Teh Teti dan Pipit, berupa antologi puisi berjudul "Merenda Harap"(2018). Bersama KPPJB, penulis menerbitkan Antologi Cerpen "Jasmine"(2021), "We are Smart Children"(2022), Antologi Senryu dan Haiku "Alam dan Manusia dalam Kata"(2022), "Berkarya Tanpa Batas Antologi Artikel Akhir Tahun"(2022) , Buku Tunggal "Cici Dede Anak Gaul" (2022) dan "Aku dan Chairil"(2023)

4 komentar pada “Urung

  • September 18, 2022 pada 10:46 am
    Permalink

    Masyaallah.. bagus banget bun

    Balas
    • September 18, 2022 pada 11:17 am
      Permalink

      Makasih, Mbak sayang, atas apresiasinya….jazaakillah khair ūüôŹ‚̧ԳŹ

      Balas
  • September 22, 2022 pada 11:33 am
    Permalink

    Siapa ya bunda sayang ūü•į

    Balas
    • September 22, 2022 pada 12:36 pm
      Permalink

      Iya, misterius, Bunda Irah….hiii

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *