STRAWBERRY TEACHERS PENYEBAB MENUMPULNYA DAYA JUANG BELAJAR SISWA

Ditulis oleh: Enok Ratnayu

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Suatu hari saya membagikan kisi-kisi USP (Ujian Satuan Pendidikan) kepada siswa saya yang duduk di kelas XII. Tiba-tiba ada seorang siswa yang mengacungkan tangan, “Bu, kok dalam kisi-kisi ini tidak ada soalnya?” Lalu saya balik bertanya, “Maksudmu apa? Kisi-kisi memang tidak memuat soal, yang ada indikator soal.” Siswa tersebut kembali bertutur, “Tapi Bu, kisi-kisi mapel X ada soal dan kunci jawabannya!” Kemudian saya menjawab, “Oh, itu bukan kisi-kisi, itu namanya kartu soal!”

Setelah kejadian tersebut, saya merenung … di mana letak kesalahannya??? Apakah guru mapel X yang dikatakan oleh siswa tadi tidak memahami kisi-kisi soal? Apakah beliau tidak bisa membedakan kisi-kisi dan kartu soal? Masa sih? Kami para guru, minimal sarjana, dan ketika kuliah pasti mendapat mata kuliah “Evaluasi Pendidikan”! Bila memang beliau lupa tentang perbedaan kisi-kisi dan kartu soal, ini harus diluruskan, harus diberi tahu!

Namun, andai guru tersebut, sengaja membocorkan soal supaya ketika ujian nanti hasilnya bagus, ini kesalahan besar! Dan ini proses pengerdilan generasi muda dengan sengaja!

Di saat lain, sebagai guru bahasa Indonesia, saya mengajarkan materi teks editorial. Setelah para siswa memahami esensi teks editorial bahwa tema yang harus diangkat adalah tema aktual yang saat ini sedang menjadi trending topik, saya menugaskan mereka menulis teks editorial. Ketika saya memeriksa tugas mereka, saya merasa sangat sedih karena 80% dari mereka menyontek dari media online. Kalau menyontek ide lalu direproduksi, tidak masalah, berarti mereka menuturkan kembali dengan bahasa sendiri! Ini yang terjadi, mereka meng-copy paste persis seperti naskah asli. Hal ini saya ketahui setelah saya menemukan tulisan beberapa siswa yang sama persis, lalu saya googling, dan saya temukan naskah asli tersebut.

Berdasarkan dua pengalaman tersebut, saya bermaksud menulis makalah dengan judul “Strawberry Teachers Penyebab Menumpulnya Daya Juang Beĺajar Siswa”.

 

1.2 Masalah

  1. Apa yg dimaksud dengan strawberry teachers?
  2. Mengapa strawberry teachers bisa menumpulkan daya juang belajar siswa?
  3. Bagaimana cara menghindarkan strawberry teachers agar daya juang belajar siswa bisa lebih tajam?

1.3 Tujuan

  1. Menjelaskan pengertian strawberry teachers.
  2. Menguraikan alasan bahwa strawberry teachers bisa menumpulkan daya juang belajar siswa.
  3. Menjelaskan cara menghindarkan strawberry teachers agar daya juang belajar siswa bisa lebih tajam.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Strawberry Teachers

2.1.1 Tinjauan Teoritis

Sebelum membicarakan strawberry teachers, mari kita pahami dulu strawberry generation atau generasi stroberi.

Generasi stroberi adalah sebuah istilah yang menggambarkan fenomena generasi muda saat ini. Mereka biasanya memiliki ide dan kreativitas yang tinggi, namun saat diberi sedikit tekanan mereka mudah hancur layaknya buah stroberi.

Seperti yang disebutkan oleh Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Strawberry Generation, beliau menyebutkan jika generasi ini merupakan generasi yang memiliki banyak ide cemerlang serta kreativitas yang tinggi. Tapi sayangnya, mereka mudah sekali untuk menyerah, mudah sakit hati, lamban, egois, serta pesimis terhadap masa depan.

Jika ditelusuri ke belakang, istilah generasi stroberi pertama kali muncul di negara Taiwan untuk menggambarkan generasi muda yang lahir setelah tahun 1981 (post-80) dan mengalami kesulitan dalam menghadapi tekanan sosial tidak seperti orangtua mereka semasa muda.

Seiring berjalannya waktu, banyak perdebatan yang muncul terkait pengelompokan tahun yang ada untuk istilah ini. Tidak sedikit orang yang percaya jika istilah tersebut lebih pantas ditujukan pada mereka yang memiliki perilaku layaknya buah stroberi.

2.1.1.1 Karakteristik Generasi Stroberi

Tidak semua anak muda bisa disebut dengan sebutan generasi stroberi. Nyatanya, ada beberapa karakteristik tertentu yang menjadikan seseorang termasuk ke dalam kelompok ini. Pada umumnya hal tersebut dapat terlihat dari perilaku sosial dan dunia kerja. Adapun karakteristik yang muncul untuk generasi ini terbagi menjadi dua jenis seperti di bawah ini.

2.1.1.2 Karakteristik Generasi Stroberi secara Positif

  1. Menyukai Tantangan

Generasi stroberi cenderung menghindari sesuatu yang monoton atau rutinitas yang sama. Mereka suka sesuatu yang baru dan menantang. Hal ini dinilai cukup baik karena bisa membantu karir mereka di masa yang akan datang.

  1. Bekerja Tidak Melulu Karena Uang

Sudah jadi rahasia umum jika salah satu tujuan dari bekerja adalah mencari uang untuk menyambung hidup. Namun untuk generasi stroberi, mereka punya cara pandang yang berbeda terkait bekerja. Bagi mereka, bekerja tidak hanya soal uang tapi juga pengembangan minat dan bakat (passion). Hal ini juga menjadi salah satu sebab mengapa generasi yang satu ini punya segudang kreativitas.

  1. Berani Menyampaikan Pendapat

Mereka tidak segan untuk mengutarakan apa yang mereka rasakan ataupun ide-ide cemerlang yang mereka miliki. Ini tentunya bagus untuk mendukung kemajuan suatu bisnis atau perusahaan.

  1. Mudah Beradaptasi dengan Teknologi

Generasi stroberi memiliki pemahaman yang baik dalam urusan teknologi. Kemampuan mereka yang mudah beradaptasi dengan kemajuan zaman dapat membantu berbagai aspek kehidupan menjadi lebih baik.

2.1.1.3 Karakteristik Generasi Stroberi secara Negatif

  1. Terjebak dalam Zona Nyaman

Pola asuh memainkan faktor penting dalam terciptanya generasi stroberi. Didikan orangtua yang terlalu memanjakan anak dapat berimbas pada pola pikir yang tidak realistis. Sebagai contoh dalam ranah pekerjaan banyak generasi muda saat ini cenderung meminta gaji yang besar tanpa tahu kapasitas skill yang dimiliki telah sesuai atau belum dengan kebutuhan pasar.

  1. Tidak Memiliki Rasa Tanggung Jawab

Ada keengganan yang melekat pada generasi ini untuk bertanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan secara sadar. Tak jarang, banyak di antara mereka yang bahkan melimpahkan kesalahan tersebut pada orang lain.

  1. Mudah Menyerah

Karakteristik yang ketiga ini menjadi ciri khas dari generasi stroberi yang mudah untuk dikenali. Mereka sangat rapuh dan mudah menyerah terhadap berbagai tekanan sosial yang muncul di sekitar mereka. Menjadikan mereka pibadi yang mudah sekali untuk mengeluh dan merasa tersinggung.

  1. Memiliki Harapan yang Tidak Realistis

Harapan dan keinginan tidak selalu terwujud sesuai rencana. Generasi yang satu ini dikenal memiliki harapan yang tidak realistis dan seringkali memaksakan kehendak. Dalam dunia kerja mereka sering dilabeli sebagai pekerja yang lamban, suka membangkang, sombong, dan egois.

2.1.1.4 Pemicu Munculnya Generasi Stroberi

Dikutip dari sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali, ada beberapa faktor pemicu munculnya generasi stroberi. Faktor tersebut terdiri dari beberapa hal di bawah ini:

  1. Didikan Orangtua (Pola Asuh/Parenting)

Didikan orangtua atau pola asuh punya peranan yang penting untuk tumbuh kembang anak, khususnya dalam membangun karakter anak. Jika orangtua terlalu memanjakan, overprotective, dan terus menerus ikut campur terhadap apa yang tengah dihadapi oleh sang anak, hal tersebut akan membuat anak menjadi ketergantungan pada orangtuanya, sehingga mereka merasa kesulitan untuk memutuskan segala sesuatunya, baik dan buruk untuk diri mereka sendiri.

Alih-alih terlalu ikut campur dan ‘menyetir’ anak, orangtua bisa berperan sebagai orang dewasa yang mampu memberikan pendapat serta pencerahan terhadap suatu permasalahan atau keputusan. Misalnya memberitahu konsekuensi dari suatu tindakan dilihat dari berbagai sisi.

Ajarkan anak bagaimana cara menghargai jerih payah dengan tidak langsung memberikan apa yang anak minta, buat mereka mengerti jika segala sesuatunya membutuhkan proses dan perjuangan.

Terapkan kebijakan atas suatu konsekuensi yang anak lakukan, jangan terus menerus memaklumi kesalahan mereka karena hal tersebut bisa berdampak pada sifat anak yang semena-mena, egois, dan selalu ingin dimaklumi.

  1. Labelling atau Panggilan yang Diberikan Orangtua

Pemicu munculnya generasi stroberi yang kedua adalah labelling atau sebutan yang diberikan orangtua. Sepatah kata walaupun diucap secara tidak sengaja dapat memberikan dampak yang luar biasa, apalagi jika kata tersebut diucapkan secara berulang. Sebagaimana yang orangtua masa kini sering lakukan dengan melabeli anaknya menggunakan sebutan tertentu. Baik itu yang berkonotasi baik maupun kata-kata yang sebaiknya tidak terucap.

Misalnya, menyebut anak dengan si pemalas, lamban, tidak becus, susah diatur, dan lain sebagainya akan berefek pada pola pikir anak di masa mendatang. Mereka akan merasa kurang pede dengan dirinya sendiri dan enggan untuk berjuang mendapatkan apa yang diinginkan karena mereka mengamini apa yang orangtua mereka pernah katakan.

Begitupun juga dengan labelling yang memiliki makna positif seperti panggilan princess, anak paling pintar, anak terhebat, dan lainnya akan membuat anak cenderung besar kepala dan merasa bahwa dirinya selalu benar, sehingga mereka cenderung sulit menerima kenyataan jika di luaran sana ada anak-anak lainnya yang lebih hebat dari mereka. Tak jarang, labelling positif yang satu ini juga bisa membuat anak terlalu percaya diri dan menjadi egois.

  1. Self Diagonose tanpa Dampingan Ahli

Kemajuan teknologi saat ini banyak mendukung masyarakat kita menjadi lebih maju dan mudah mendapatkan informasi terbaru. Namun sayangnya, dengan adanya kemudahan yang ada ini, tidak dibarengi dengan literasi yang cukup, sehingga banyak generasi stroberi yang menelan segala sesuatunya secara mentah-mentah tanpa mau meluangkan sedikit waktu untuk menggali kebenaran yang ada.

Sebagai contoh jika ada sesuatu yang terjadi pada diri mereka. Mereka cenderung bertanya langsung pada Google atau netizen di sosial media. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun akan lain hasilnya jika mereka serta merta percaya begitu saja tanpa memvalidasi kebenarannya.

Seperti halnya tentang kesehatan mental (mental health). Banyak generasi zaman sekarang cukup aware tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Namun sayangnya, banyak dari mereka cenderung self diagnose.

2.1.2 Pengertian Strawberry Teachers

Dari uraian tentang generasi stroberi di atas, kita bisa mengadaptasi tentang strawberry teachers dan perannya dalam membentuk generasi stroberi. Mari kita telaah!

  1. Keunggulan Generasi Stroberi:

– Menyukai tantangan

– Bekerja tidak melulu karena uang

– Berani menyampaikan pendapat

– Mudah beradaptasi dengan teknologi

  1. Kelemahan Generasi Stroberi:

– Terjebak dalam zona nyaman

– Tidak memiliki rasa tanggung jawab

– Mudah menyerah

– Memiliki harapan yang tidak realistis

 

Masih menurut Prof. Renald Kasali, ada tiga faktor pemicu munculnya generasi stroberi, yaitu!

  1. Didikan orangtua yang salah
  2. Labeling atau panggilan yang diberikan orangtua
  3. Self diagnose namun tanpa pendampingan ahli

Dengan mengadaptasi teori di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Strawberry Teachers adalah tindakan guru dalam mendidik, membimbing, dan melatih siswa dengan cara yang salah sehingga dapat memicu munculnya Strawberry Generation. Tindakan-tindakan salah tersebut, yang selanjutnya kita sebut sebagai karakteristik strawberry teachers.

 

2.1.3 Karakteristik Strawberry Teachers

2.1.3.1 KBM yang Tidak Memantik Siswa untuk Kreatif

Menurut Ki Hajar Dewantoro, ada tiga peran guru dalam proses pendidikan:

– Ing Ngarso Sung Tulodo (seorang guru adalah pendidik yang harus menjadi panutan atau memberikan contoh bagi murid-muridnya);

– Ing Madyo Mangun Karso (seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya);

– Tut Wuri Handayani (seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus memberikan semangat atau dorongan dari belakang).

Dalam kenyataan di lapangan masih ada guru yang belum memberi teladan kepada para siswanya baik dari segi karakter maupun proses dan hasil pembelajaran; belum bisa mendampingi murid-muridnya sepenuh hati dan waktu;  serta belum bisa memompa semangat mereka agar terus membara untuk melahirkan karya-karya kreatif.

Khusus untuk proses dan hasil pembelajaran, terkadang para guru terjebak dengan tuntutan kurikulum yang terus berubah, yang memerlukan adaptasi dari para guru itu sendiri. Kurikulum sudah berjalan, namun adaptasi kompetensi guru masih dalam proses. Akibatnya KBM yang meminta peran guru sebagai ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani tidak terealisasi. Belum lagi masih banyak guru yang terpaksa mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya, karena di sekolah yang bersangkutan kekurangan guru untuk mata pelajaran tertentu.

Bagaimana seorang guru bisa memantik kreativitas siswa, bila dia sendiri belum memiliki pemahaman yang utuh tentang mata pelajaran yang diampunya (?)

2.1.3.2 KBM yang Menjadikan Siswa Hanya Objek Penerima Transfer Ilmu

Dalam sistem pembelajaran tradisional, siswa ditempatkan sebagai objek penerima ilmu yang diberikan guru. Guru adalah sentral/pusat. Para murid hanya menunggu perintah-perintah/tugas-tugas yang diberikan guru. Bahkan buku sumber pun sudah ditentukan guru. Untuk mendapatkan nilai tinggi, murid tinggal manut saja pada guru.

Bila sistem KBM seperti ini masih berlangsung, maka kreativitas siswa tidak akan tergali. Siswa hanya dilatih untuk taat saja tanpa diberi ruang yang menantang ketangguhan dan menunjukkan keunggulannya.

2.1.3.3 KBM yang Hanya Menuntun Siswa untuk Memahami llmu Pengetahuan secara Parsial

Seiring perkembangan teknologi, akses internet semakin mudah dijangkau oleh semua kalangan termasuk siswa. Dalam KBM, hal ini sering dimanfaatkan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas secara instan dengan langsung bertanya kepada google. Mereka akan mendapatkan jawaban yang tepat secara cepat, tanpa memahami konsep dasar apalagi latar belakang keilmuannya. Akibatnya, ilmu yang mereka peroleh hanya potongan-potongan puzle secara parsial tanpa tahu bentuk utuhnya.

Hal ini diperparah dengan sikap guru yang menerima begitu saja jawaban atau hasil tugas siswa yang tampak ilmiah, tanpa mengecek pemahaman siswa tersebut.

Banyak siswa yang mengerjakan tugas hanya copy paste, tanpa memahami keutuhan dan esensi ilmunya.

2.1.3.4 KBM yang Memberi Peluang kepada Siswa untuk Menjadi Insan Penyontek, Bukan Pencipta

Ketika tugas KBM semakin mengglobal, menuntut para siswa agar membuka wawasan seluas-luasnya. Mereka mestinya mempelajari banyak referensi. Namun faktanya, saat ini para siswa lebih suka segala hal yang serba cepat. Akibatnya, ketika tugas-tugas KBM bersifat global, para siswa menyontek dari google, dengan hanya mengganti/memasukkan identitas mereka.

Para guru baru kaget ketika mereka memeriksa beberapa tugas yang persis sama! Ini, bila diperiksa secara teliti, bila tidak; maka kecurangan siswa tidak akan terdeteksi! Mereka selamat sebagai insan penyontek, bukan pencipta.

2.1.3.5 Labeling yang Diberikan Guru

Guru juga manusia! Namun, sesungguhnya mereka telah dibekali dengan ilmu pedagogik dan psikologi pendidikan; yang salah satunya dalam proses pendidikan, akan ada perubahan tingkah laku, karakter, dan kompetensi sebagai hasil pendidikan. Terkadang mereka lupa!

Ketika di kelas awal, atau pada pertemuan awal, atau pada beberapa pertemuan awal, menemukan siswa yang tampak malas, suka tidur, telat mengerjakan tugas, sering datang terlambat, sering bolos, dan lain-lain; para guru terkadang melabeli mereka dengan sifat-sifat yang ditemukannya tadi. Padahal seiring berjalannya waktu dan proses pendidikan, siswa tersebut bisa berubah. Namun label guru tetap melekat pada mereka. Akibatnya mereka susah move on, bahkan frustasi, yang akhirnya menjadikan label tersebut sebagai identitas dirinya.

 

2.2 Strawberry Teachers Bisa Menumpulkan Daya Juang Belajar Siswa

Mencermati lima karakteristik Strawberry Teachers di atas, jelas bisa menumpulkan daya juang belajar para siswa.

2.2.1 KBM yang Tidak Memantik Siswa untuk Kreatif

Para siswa yang tidak pernah dipantik kreativitasnya, ibarat pisau yang tidak pernah diasah. Alih-alih bisa tajam, malah tumpul dan berkarat. Daya juang belajar mereka tidak terlatih.

2.2.2 KBM yang Menjadikan Siswa Hanya Objek Penerima Transfer Ilmu

Bila hanya dijadikan objek transfer ilmu, para siswa tidak akan tertantang untuk menjelajah, mencari, dan menemukan sesuatu yang baru. Padahal ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang sepanjang waktu. Daya juang belajar mereka tidak berkembang. Mereka hanya nrimo, ibarat balita yang disuapi ibunya.

2.2.3 KBM yang Hanya Menuntun Siswa untuk Memahami llmu Pengetahuan secara Parsial

KBM dangkal hanya akan menuntun siswa untuk memahami ilmu pengetahuan secara parsial. Padahal untuk bernilai manfaat, ilmu pengetahuan harus dipahami dan dikuasai secara holistik.

Jebakan tugas yang hanya meminta pengertian, struktur, rumus, dan lain-lain; bukan membuat siswa semakin tajam nalarnya, malah terjebak pada hafalan yang kurang berarti. Nalar mereka menjadi tumpul.

2.2.4 KBM yang Memberi Peluang kepada Siswa untuk Menjadi Insan Penyontek, Bukan Pencipta

KBM yang hanya meminta siswa mengerjakan tugas sesuai petunjuk, tanpa dihubungkan dengan fakta terdekat memberi peluang kepada siswa untuk menjadi penyontek.

Contoh tugas semacam ini kalau dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, misalnya tugas membuat “Resensi Film”. Resensi film saat ini sudah banyak tersebar di internet, jadi para siswa tinggal copas saja.

2.2.5 Labeling yang Diberikan Guru

Labeling yang diberikan guru sangatlah berpengaruh terhadap jati diri siswa. Bila guru memberi label positif kepada siswa, seperti: siswa rajin, siswa yang taat tata tertib, siswa pintar, dan lain-lain; mungkin akan memacu siswa untuk mepertahankan label positif tersebut.

Namun bila label negatif, bisa membuat siswa tidak bisa move on bahkan frustasi. Contoh, ada siswa yang sering terlambat datang ke sekolah, suatu saat ia datang lebih awal; eh komentar guru, “Tumben kamu tidak terlambat!” Atau, siswa yang sering bernilai rendah, suatu saat nilai dia bagus dan betul-betul hasil jerih payahnya, eh komentar guru, “Kok nilaimu bagus! Nyontek dari siapa?” Inilah yang menumpulkan bahkan menghancurkan daya juang siswa!

2.3 Cara Menghindarkan Strawberry Teachers agar Daya Juang Belajar Siswa Bisa Lebih Tajam

Mengingat ada lima karakteristik Strawberry Teachers, maka pembahasan selanjutnya berpedoman pada lima karakteristik tersebut.

2.3.1 KBM yang Memantik Siswa untuk Kreatif

Guru yang profesional, akan selalu berpegang teguh pada tiga prinsip KBM yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantoro.

2.3.1.1 Prinsip Pertama: Ing Ngarso Sung Tulodo

Guru profesional akan selalu tampil di depan untuk memberikan teladan, baik dari segi karakter maupun contoh hasil KBM.

Contoh konkret dalam bidang KBM misalnya, seorang guru bahasa Indonesia yang mengajarkan puisi, yang menugaskan siswa menulis puisi, ia akan menunjukkan contoh kepada para siswa buku antologi puisi yang pernah ditulisnya dan sudah diterbitkan. Hal ini akan memberi energi positif yang dahsyat bagi siswa-siswanya untuk kreatif berkarya mengikuti gurunya. Para siswa akan menaruh kepercayaan kepada gurunya bahwa guru tersebut bukan hanya pintar memberi tugas, tapi juga mahir memproduksi karya.

2.3.1.2 Prinsip Kedua: Ing Madyo Mangun Karso

Guru profesional akan selalu berada di tengah-tengah siswanya baik dalam proses KBM intra maupun ekstra bahkan kapan pun ketika siswa membutuhkan. Contoh, ketika ada siswa yang berminat mengikuti lomba, baik yang ditugaskan pihak sekolah maupun mandiri, guru profesional akan siap mendampingi, membimbing, dan memberi semangat untuk berani bertanding demi mengasah kompetensinya.

Contoh konkret yang pragmatis, seorang guru bahasa Indonesia di-wa oleh siswanya bahwa siswa tersebut ingin mengikuti lomba esai yang informasinya didapat dari media online. Siswa tersebut meminta gurunya untuk mengajari cara menulis esai dan setelah esai tersebut selesai ditulis, siswa tersebut menunjukkan hasil tulisannya untuk diperiksa oleh guru tersebut, sekaligus bila perlu mengeditnya.

Bila hal tersebut terjadi pada seorang guru profesional, maka guru tersebut akan merasa bangga kepada siswanya, sekaligus berbahagia bisa membantu siswa, dan berada di tengah-tengah siswanya.

2.3.1.3 Prinsip Ketiga: Tut Wuri Handayani

Ketika guru profesional berada di belakang siswanya sekalipun, ia akan selalu memberi dorongan semangat kepada siswa-siswanya untuk meraih prestasi dan meningkatkan kualitas kehidupan.

Contoh konkret, seorang guru yang bertindak menjadi wali kelas XII di sebuah SMK/SMA, akan mencermati potensi siswanya dan bertanya kepada siswanya tentang cita-cita siswanya pascalulus SMK/SMA. Bagi siswa yang berminat dan potensial melanjutnya studi ke perguruan tinggi, maka sang guru/wali kelas tersebut akan memberi beberapa petunjuk, strategi, dan motivasi agar siswanya bisa melanjutkan studi sesuai passionnya dengan masa depan yang bisa lebih cemerlang. Demikian juga kepada siswa yang berminat bekerja, maka sang guru/wali kelas akan membantu dengan menunjukkan berbagai referensi dunia kerja baik secara mandiri, misal wirausaha; maupun bila bekerja sebagai karyawan.

2.3.2 KBM yang Menjadikan Siswa sebagai Subjek/Pemeran Utama

Cara kedua untuk menghindari Strawberry teachers dan agar daya juang belajar siswa meningkat tajam adalah dengan menjadikan siswa sebagai subjek belajar atau pemeran utama. Salah satu hal yang bisa dilakukan guru adalah dengan memberi kepercayaan kepada siswa bahwa mereka pasti mampu melaksanakan aktivitas KBM sesuai tuntutan kurikulum

Contoh konkret, pada awal semester guru sudah membagikan silabus disertai petunjuk KBM dan tugas-tugas belajar yang harus ditempuh siswa. Kalau perlu, para guru memberi kemerdekaan kepada siswa untuk menempuh aktivitas dan tugas belajar dengan urutan sesuai kehendak siswa. Dalam pelaksaan KBM, hindari guru yang banyak menjelaskan atau metode ceramah; biarkan para siswa yang presentasi, berdiskusi untuk menggali dan memperdalam ilmu pengetahuan. Tugas guru cukup mencermati dan meluruskan bila ada yang salah atau kurang tepat, serta di akhir pembelajaran memberi penegasan ulang terhadap inti pembelajaran.

Metode ini akan membuat siswa lebih bertanggung jawab karena eksistensi dirinya dihargai, dan secara otomatis mereka akan belajar keras sebelum presentasi sekaligus penguasaan ilmu pengetahuan mereka terhadap materi pembelajaran akan maksimal.

 

2.3.3 KBM yang Menuntun Siswa Memahami Ilmu Pengetahuan secara Holistik

Ilmu pengetahuan itu saling berkaitan satu sama lain. Untuk bisa diambil manfaat, ilmu pengetahuan harus berkolaborasi. Kalau hanya sepenggal-sepenggal, walau pun inti, itu tidak akan bernilai manfaat. Semua harus membumi dan kontekstual. Kalau belajar matematika hanya untuk memahami rumus dan menghitung cepat dengan berbagai metode, tanpa dihubungkan dengan kehidupan nyata, itu tidak fungsional. Jadi, mestinya anak tidak sekadar tahu mengapa Islam mengajarkan makan harus sambil duduk, atau buang air kecil harus sambil jongkok? Mereka juga wajib tahu dari sudut ilmu kesehatan, sehingga mereka bisa benar-benar mengamalkan ilmu tersebut sebagai suatu kebutuhan dan keharusan, bukan sekadar paham ketaatan beragama, apalagi hanya sebatas untuk menjawab pertanyaan dengan benar sehingga bernilai tinggi.

Dengan demikian, seorang guru profesional akan selalu mengarahkan siswanya untuk mempelajari ilmu pengetahuan juga teknologi berawal dari hal mendasar sampai fungsi dan penerapannya, sehingga para siswa merasa butuh memahami dan menguasai ilmu pengetahuan tersebut.

Contoh konkret dalam KBM bahasa Indonesia, mengapa para siswa harus bisa menulis proposal? Bukan hanya tahu pengertian, struktur, dan kaidah kebahasaan? Karena proposal akan banyak digunakan dalam kehidupan mereka di masa datang. Mungkin di antara mereka akan ada yang menjadi pejabat, pegawai, pengusaha, yang pasti mereka akan akrab dengan proposal. Ketika mereka memahami dan bisa membuat proposal, andai mereka menjadi pejabat, setidaknya tidak akan mudah terperdaya dengan proposal-proposal bodong yang menyesatkan dan mengandung penipuan. Bahkan sesungguhnya seorang ibu rumah tangga pun perlu bisa membuat proposal untuk mengajukan anggaran romadhon dan Idul Fitri kepada suaminya.

Nah, ketika para siswa sudah memahami fungsi dan manfaat sebuah materi pembelajaran, maka mereka akan terpacu untuk menguasainya secara menyeluruh.

2.2.4 KBM yang Memberi Peluang kepada Siswa menjadi Insan Pencipta

Seorang guru profesional tidak akan pernah memberi peluang kepada siswanya untuk menyontek. Mereka akan memberi tugas-tugas KBM yang memancing siswanya untuk menciptakan karya.

Contoh konkret, dalam KBM bahasa Indonesia, ketika guru mengajarkan materi resensi film dan menugaskan siswa membuat resensi film, maka film yang ditugaskan untuk dirèsensi janganlah film bioskop; alangkah lebih baiknya memilih film produksi lokal sekolah misalnya karya ekskul, dan lain-lain, sehingga siswa betul-betul akan menulis resensi film hasil karyanya sendiri, tanpa ada peluang copas dari google.

Contoh kedua, ketika guru bahasa Indonesia mengajarkan dan menugaskan siswanya menulis teks editorial yang temanya harus masalah yang sedang menjadi pembicaraan masyarakat umum; maka untuk penugasan, guru lebih baik menentukan tema seputar sekolah atau minimal isu lokal yang tidak ada dalam berita media massa.

Jadi jangan sampai para guru terjebak ke dalam strawberry teachers gara-gara salah menentukan tema atau objek tugas.

2.2.5 Guru tidak Pernah Memberi Labeling kepada Siswa

Seorang guru profesional tidak akan pernah membuat label pada para siswanya. Jangankan label negatif, label positif pun mestinya dihindari, atau dipertimbangkan efeknya. Siswa adalah manusia belum dewasa yang masih bisa berubah, apalagi dalam proses pendidikan.

Label negatif sudah pasti bisa membuat siswa patah semangat, bahkan frustasi. Contoh, seorang siswa yang sering datang terlambat, jangan sampai dilabeli “si tukang telat”! Apalagi bila guru yang bersangkutan tidak tahu pasti penyebabnya. Mungkin karena akses rumah yang sangat jauh, atau bahkan bisa jadi ia harus merawat orangtuanya yang sedang sakit. Hati kecil siswa tersebut sesungguhnya tidak ingin terlambat, ia selalu berusaha dan sedang proses untuk bisa datang tepat waktu. Namun bila labeling tersebut selalu digaungkan, maka ketika siswa tersebut bisa datang tepat waktu malah dibully juga, dikomentari, Tumben tidak terlambat!” Hal ini akan membuat siswa pecah hati bahkan frustasi dan membiarkan dirinya selalu terlambat.

Label positif pun sesungguhnya bisa menjadi efek negatif. Misal ada siswa yang terkenal serba bisa, pintar, dan lain-lain; siswa tersebut bisa menjadi anak yang sombong dan bahkan tidak disukai teman-temannya karena sering dipuji guru atau dijadikan ròle model. Teman-temannya cemburu sosial dan siswa yang bersangkutan akhirnya juga tidak nyaman.

Jadi, labeling itu, baik positif maupun negatif tidak boleh dilakukan!

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan.bahwa,

3.1.1 Strawberry Teachers adalah tindakan guru dalam mendidik, membimbing, dan melatih siswa dengan cara yang salah sehingga dapat memicu munculnya Strawberry Generation. Tindakan-tindakan salah tersebut, yang selanjutnya kita sebut sebagai karakteristik strawberry teachers, ysng terdiri dari:

  1. KBM yang idak memantik siswa untuk kreatif;
  2. KBM yang menjadikan siswa hanya objek penerima transfer ilmu;
  3. KBM yang hanya menuntun siswa untuk memahami ilmu pengetahuan secara parsial;
  4. KBM yang memberi peluang kepada siswa untuk menjadi insan penyontek, bukan pencipta;
  5. Memberi labeling kepada siswa.

3.1.2 Sttrawberry Teachers bisa menumpulkan daya juang belajar siswa karena,

  1. Tidak memantik siswa untuk kreatif;
  2. Menjadikan siswa hanya objek penerima transfer ilmu;
  3. Hanya menuntun siswa untuk memahami ilmu pengetahuan secara parsial;
  4. Memberi peluang kepada siswa untuk menjadi insan penyontek, bukan pencipta;
  5. Memberi labeling kepada siswa.

3.1.3 Cara menghindarkan Strawberry Teachers agar daya juang belajar siswa bisa lebih tajam,

  1. KBM harus bisa memantik siswa agar kreatif;
  2. KBM harus bisa menjadikan siswa sebagai subjek/pemeran utama;
  3. KBM harus menuntun siswa untuk memahami ilmu pengetahuan secara holistik dan bernilai manfaat;
  4. KBM harus memberi peluang kepada siswa untuk menjadi insan pencipta;
  5. Tidak ada labeling bagi siswa dari kelompok mana pun.

3.2 Saran

Sebagai guru profesional, kita jangan sampai terjebak pada kondisi StrawberryTeacher! Mari kita ciptakan generasi muda tangguh yang akan menjadi pemenang ketika mereka harus bertarung dengan kekejaman zaman!

 

Daftar Pustaka:

https://pdfcoffee.com/rhenald-kasali-strawberry-generationpdf-pdf-free.html

Ilustasi dari pontianak.tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *